Fkmpc Dorong Kepedulian Untuk Ibu Karah, Janda Yang Berjuang Hidupi Tiga Anak

Fkmpc Dorong Kepedulian Untuk Ibu Karah, Janda Yang Berjuang Hidupi Ti
08-Oct-2026 | sorotnuswantoro LEBAK,Banten

Sepeninggal suaminya, Utang Setiadi, kehidupan Ibu Karah, warga RT 02/RW 06, Desa Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, harus terus berjalan.

Di tengah duka kehilangan pasangan hidup, Ibu Karah kini harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dan menghidupi tiga orang anaknya.

Utang Setiadi meninggal dunia pada 2026 setelah kurang lebih delapan tahun mengalami sakit. Selama bertahun-tahun, Ibu Karah setia mendampingi suaminya dalam kondisi kehidupan yang serba terbatas.

Sebelumnya, Ibu Karah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan secara asongan. Namun, usaha tersebut kini tidak lagi dapat dijalankan karena modal yang dimilikinya telah habis.

Kondisi tersebut membuat Ibu Karah harus mencari jalan lain untuk mendapatkan penghasilan. Saat ini, ia bekerja membantu di tempat penjualan mi ayam demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan itu dijalaninya dengan penuh keteguhan. Sebab, setelah suaminya meninggal dunia, Ibu Karah tidak hanya harus memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga menjadi tumpuan bagi ketiga anaknya.

Kondisi keluarga tersebut membuat mereka sangat membutuhkan perhatian, kepedulian dan bantuan dari berbagai pihak.

RUMAH YANG DIBANGUN DARI KEPEDULIAN FKMPC

Rumah yang kini ditempati Ibu Karah dan ketiga anaknya memiliki cerita tersendiri.

Pada 2023, rumah keluarga almarhum Utang Setiadi dibangun melalui kepedulian Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Cibeber (FKMPC) yang diketuai TB Endin.

Pembangunan rumah tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian FKMPC terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Ketua FKMPC, TB Endin, mengatakan kepedulian terhadap masyarakat merupakan bagian dari semangat yang sejak awal menjadi dasar berdirinya organisasi tersebut.

Menurutnya, FKMPC didirikan oleh sejumlah tokoh masyarakat Kecamatan Cibeber pada 2008. Sejak awal, organisasi tersebut dibangun dengan semangat untuk memperkuat kepedulian terhadap masyarakat Cibeber.

“FKMPC ini lahir dari kepedulian para tokoh masyarakat Cibeber. Sampai sekarang kami tetap berusaha eksis untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Apa yang kami lakukan tentu tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pengurus, anggota dan para pendiri,” ujar TB Endin.

TB Endin turut menyoroti kondisi Ibu Karah yang kini harus menjalani kehidupan setelah kehilangan suami.

“Ibu Karah sekarang sudah ditinggal suaminya. Selama suaminya sakit sekitar delapan tahun, beliau sudah berjuang mendampingi. Sebelumnya beliau berjualan asongan, tetapi sekarang modalnya sudah habis sehingga tidak bisa melanjutkan usaha. Sekarang beliau bekerja di tempat jualan mi ayam untuk memenuhi kebutuhan hidup dan anak-anaknya,” kata TB Endin.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keluarga Ibu Karah masih membutuhkan perhatian dari berbagai pihak.

“Kondisi seperti ini tentu membutuhkan kepedulian kita bersama. Beliau harus menghidupi tiga anak setelah kehilangan suami. Kami berharap ada pihak-pihak yang tergerak untuk memberikan perhatian dan bantuan sesuai kemampuan masing-masing,” ungkapnya.

FKMPC AJAK SEMUA PIHAK PEDULI

TB Endin menegaskan, kepedulian terhadap masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab FKMPC. Menurutnya, persoalan sosial membutuhkan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.

“Kepedulian ini bukan hanya tugas FKMPC. Pemerintah, masyarakat, para pengusaha, tokoh masyarakat dan siapa pun yang mempunyai kemampuan untuk membantu, mari bersama-sama memberikan perhatian kepada warga yang membutuhkan,” tuturnya.

Ia berharap semangat kepedulian yang sejak awal menjadi dasar berdirinya FKMPC dapat terus dijaga.

TETAP BERJUANG DEMI ANAK-ANAK

Kini, Ibu Karah harus menjalani kehidupan dengan kondisi yang berbeda. Usaha asongan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan telah berhenti karena kehabisan modal.

Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha. Ia memilih bekerja membantu penjual mi ayam demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah kehilangan suami dan keterbatasan ekonomi, masih ada tiga anak yang menjadi alasan baginya untuk terus melangkah.

Kisah Ibu Karah menjadi potret perjuangan seorang ibu yang berusaha bertahan setelah kehilangan kepala keluarga. Ia tidak hanya membutuhkan bantuan secara materi, tetapi juga kepedulian dan dukungan agar dapat terus memenuhi kebutuhan keluarganya.

Rumah yang dibangun FKMPC pada 2023 kini menjadi tempat Ibu Karah dan ketiga anaknya melanjutkan kehidupan.

Semoga kepedulian berbagai pihak dapat hadir untuk keluarga tersebut, sehingga perjuangan Ibu Karah dalam membesarkan ketiga anaknya tidak harus dijalani seorang diri.

Kepedulian bukan sekadar memberi bantuan, tetapi hadir ketika ada keluarga yang sedang berjuang untuk tetap bertahan.

(Red)

Tags