Analisa: Peluang Nabil Jayabaya Di Pilkada Lebak Mendatang
ANALISA: PELUANG NABIL JAYABAYA DI PILKADA LEBAK MENDATANG
Oleh: H ELI SAHRONI Pengamat Politik Lokal Banten
Nama Nabil Jayabaya,tak asing bagi warga Lebak, sebagai tokoh muda visioner dari keluarga yang sudah lama mewarnai politik Banten, H Mulyadi Jayabaya
Pengusaha segudang pengalaman yang rajin turun ke masyarakat saangat memiliki peluang cukup besar pada kontestasi politik pilkada lebak mendatang.
Bendahara Umum DPP Gapensi kini telah resmi masuk partai Demokrat pada momentum Musda V Partai Demokrat Banten, belum lama ini.
Adik kandung Bupati Lebak Hasby Asidiki Jayabaya bukan hanya tampil beda dalam dunia muda saat ini ,Nabil kendati masih muda dan terlahir dari keluarga dinasti selain peduli terhadap masyarakat kecil dan menengah serta memiliki jiwa kepemimpinan yang tak harus di ragukan lagi
Namun bicara tentang kontestasi politik pileg maupun pilkada bagi Sultan Mutiara bukan saat ini untuk di bicarakan mengingat masih jauh menuju tahun politik tersebut.
Nabil Jayabaya belum serius membicarakan politik kendati sosok muda visioner ini sangat di mungkinkan akan di dapuk menjadi ketua DPC Partai Demokrat Kab Lebak pada Momentum Muscab V Partai Demokrat Lebak yang direncanakan akan dilaksanakan akhir agustus ini
Modal Besar Nabil Jayabaya Ada Tiga
Pertama, brand keluarga. Nama "Jayabaya" masih punya daya jual kuat di Lebak, terutama Lebak Selatan. Jaringan relawan dan loyalis warisan Mulyadi Jayabaya masih solid.
Kedua, dukungan politik. Akses ke partai dan logistik akan lebih mudah karena nama besar keluarga.
Ketiga, narasi anak muda. Di tengah kejenuhan terhadap politikus senior, figur muda seperti Nabil bisa menarik pemilih pemula dan milenial. Karena Sultan Mutiara ini rajin menyapa warga saat turun ke bawah untuk berdialog seputar yang menjadi keluhan akar rumput.
Di balik investasi politik yang cukup besar bagi Nabil Jayabaya ada 3 tantangan besar:
Pertama, isu dinasti. Sentimen publik terhadap politik keluarga cukup tinggi. Pemilih urban di Rangkasbitung dan beberapa wilayah kecamatan mulai menuntut figur yang lahir dari kerja, bukan warisan.
Kedua, tuntutan program. Warga Lebak hari ini lebih pragmatis. Mereka bertanya soal jalan rusak, kesehatan gratis, lapangan kerja, harga gabah, dan stunting. Bukan sekadar spanduk.
Ketiga, peta lawan. Siapa yang maju dan berkoalisi dengan siapa akan sangat menentukan. Jika muncul figur non-dinasti yang kuat, baik logistik dan poluleritas akan menjadi pertarungan sengit terbuka.
Kesimpulannya: Peluang Nabil Jayabaya terbuka lebar. Tapi untuk menang, ia harus berani keluar jangan sebatas mengharapkan bayang-bayang nama besar keluarga Jayabaya.
Kuncinya ada pada 2 hal: turun langsung menyapa warga dan menawarkan program konkret yang menjawab persoalan Lebak.
Di Pilkada 2029 "nama" hanya mengantarkan ke pintu. Yang menentukan bisa masuk atau tidak adalah kerja nyata yang dirasa rakyat.
(Red)