Harapan Pupus, Hati Tergores! Bantuan Terdaftar, Suami Dipenjara, Belum Diambil Malah Diputus

Harapan Pupus, Hati Tergores! Bantuan Terdaftar, Suami Dipenjara, Belu
24-May-2026 | sorotnuswantoro Palembang

Di Lorong Masuji RT 18 RW 04 Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, sempat tumbuh secercah harapan di hati Fitriawati. Kabar bahwa suaminya terdaftar sebagai penerima Bantuan Pangan dan Modal Tunai (BPMT) sempat membuatnya tersenyum, berharap ada uluran tangan yang meringankan beban keluarga yang sedang terpuruk. Namun siapa sangka, harapan yang baru bersemi itu langsung layu dan hancur berkeping-keping, berganti rasa sedih dan kecewa yang menyayat hati.

Dengan suara bergetar menahan tangis, Fitriawati menceritakan semuanya. “Saya pikir akhirnya ada yang ingat pada kami rakyat kecil. Senangnya bukan main, rasanya ada cahaya di tengah gelapnya hidup kami,” ucapnya lirih.

Tanpa menunggu lama, ia segera bergegas ke bank untuk mengurus pembuatan buku tabungan dan kartu ATM. Namun sesampainya di sana, pintu harapan tertutup rapat. Pihak bank menjelaskan dengan tegas: pembukaan rekening hingga pencairan dana wajib dilakukan langsung oleh orang yang namanya tertera di daftar, yaitu suaminya sendiri.

Hati Fitriawati terasa remuk seketika. Bagaimana mungkin suaminya bisa hadir, padahal saat ini ia sedang menjalani masa hukuman di dalam penjara dan tidak bisa keluar ke mana-mana. Sebagai warga awam yang tidak mengerti seluk-beluk aturan, ia hanya bisa diam menahan air mata dan menerima kenyataan pahit itu dengan pasrah. “Saya bingung mau tanya ke siapa, minta tolong ke siapa. Tidak tahu ada jalan keluar atau tidak. Akhirnya saya terima nasib ini dengan tangan kosong,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Namun kepahitan belum berakhir. Yang membuat hatinya semakin perih, sebelum sempat menyelesaikan pengurusan, sebelum sempat memegang satu rupiah pun dana itu, status bantuannya tiba-tiba berubah menjadi “DIPUTUS”.

Yang paling menyakitkan, tidak ada satu kabar pun yang disampaikan kepadanya. Tidak ada pemberitahuan lisan, tidak ada surat tertulis, tidak ada penjelasan sedikitpun. Ia tidak tahu alasan dihentikannya bantuan itu, siapa yang memutuskannya, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Rasanya saya tidak dianggap ada, perasaan saya tak dipedulikan, nasib saya diubah seenaknya tanpa diberi tahu. Saya cuma rakyat kecil, tapi saya juga punya hati dan perasaan,” ucapnya Minggu (24/05/26)

Fitriawati pun bertanya, di mana mereka yang tugasnya mendampingi dan membimbing warga? Mengapa saat ia butuh penjelasan dan jalan keluar, tak ada seorang pun yang datang menolong? Mengapa bantuan yang seharusnya jadi pertolongan, justru berubah jadi sumber kesedihan yang mendalam?

Cerita menyayat hati ini kini menggema di tengah masyarakat. Program bantuan yang dirancang untuk meringankan beban rakyat, justru terasa seperti duri yang menusuk dada bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Semoga suara tangis dan keluh kesah ini segera didengar pihak berwenang, agar ada penjelasan yang jelas, solusi yang adil, dan harapan yang sempat pupus bisa kembali tumbuh di hati rakyat kecil.(*).red.

Tags