Umbi Yakon Potensi Meningkatkan Ekonomi Petani Wonosobo
Dataran tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo selain penghasil kentang yang terkenal legit, ada juga umbi yang bernama yakon, berasal dari Pegunungan Andes Amerika Selatan. Umbi ini tidak bisa tumbuh di sembarang tempat melainkan harus di dataran tinggi. Pegunungan Dieng merupakan tempat yang sangat cocok untuk budi daya umbi yakon, selain daerah Bandung dan Yogyakarta di daerah dataran tingginya.
Penyebarannya dimulai sejak abad ke-19 di daerah Eropa kemudian ke Asia, yaitu Jepang dan Indonesia, baru kemudian ke Selandia Baru. Umbi ini memiliki nama latin Smallanthus sonchifolius. Nama yakon berasal dari Bahasa Quechua dari suku Inca di Peru yang artinya akar air karena memiliki tekstur renyah dan sangat berair mirip seperti buah pir dan bengkuang.
Pegunungan Dieng di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, terkenal karena panorama alamnya yang indah, sehingga menjadi tujuan pariwisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Dataran tinggi ini dikelilingi oleh beberapa gunung api yang disebut kaldera dengan ketinggian rata-rata 2.000 mdpl.
Struktur tanah dan cuaca yang dingin cocok untuk bertani sayur mayur dan buah-buahan yang memang bisa tumbuh subur di dataran tinggi. Selain penghasil kentang terbesar di Indonesia yang dikenal dengan sebutan kentang dieng dengan rasa yang legit, Wonosobo juga penghasil manisan carica yang biasanya dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Hasil bumi lainnya dari daerah ini adalah umbi yakon dengan manfaat gizi dan nilai ekonomi yang patut diperjuangkan.
Walaupun bibitnya bukan asli dari Indonesia, namun potensinya bisa menaikkan ekonomi daerah. Mengutip dari Indorama.News tentang artikel "Ubi Yakon Wonosobo: Si Manis dari Lereng Dieng", kecamatan Kejajar dan Garung merupakan kawasan petani yakon yang sudah memulai membudidayakannya.
Ciri khas umbi ini adalah bisa dimakan mentah dan rasanya renyah, manis mirip seperti buah pir. Masa panennya relatif singkat sekitar 6-8 bulan dengan ciri-ciri daunnya yang menguning. Selain umbi yang merupakan produk utama, daunnya juga sudah bisa dipanen sekitar umur 2,5 bulan dan dijadikan teh atau obat herbal. Setelah panen, didiamkan dulu di tempat kering agar rasa dari umbi ini menjadi manis.
Dengan manfaat yang begitu banyak, apalagi bisa dimakan secara langsung, memungkinkan untuk dijadikan alternatif pangan bila dalam keadaan darurat atau bencana. Tanpa dimasak yang memerlukan api baik dari gas, minyak maupun kayu, umbi ini bisa jadi penganti pangan. Berdasarkan penelitian yang dirangkum oleh Kayla Sahfa Marunisa, mahasiswi program studi farmasi program studi ilmu kesehatan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, mengulas tentang nutisi yang ada di umbi yakon ini, yaitu memiliki kandungan kalori 600-900kJ/kg berat basah. Kalori ini di dalamnya mengandung antioksidan, vitamin B dan C, juga aneka mineral.
Tak hanya umbinya, daunnya pun memiliki manfaat, khususnya untuk kesehatan, karena mengandung antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram, baik Gram positif maupun Gram negatif. Menurut penelitian dari berbagai sumber, ekstrak etanol dari tanaman ini dengan konsentrasi 10% menunjukkan kemampuan antibakteri terhadap bakteri Staphilococcus aureus dan P. aeruginosa karena mengandung fenolik dan falvonoid.
Kabar baiknya juga umbi yakon dapat menurunkan kadar gula darah karena mengandung FOS dan polifenol. Polifenol ini memiliki peran penting dalam aktifitas biologis yaitu antihiperglikemik, antidiabetik, dan antioksidan terhadap radikal bebas. Kandungan alami yang mempengaruhi kesehatan ini tentunya sangat membantu bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan terapi melalui herbal untuk menunjang dan membantu pemulihan kesehatannya.
Dari umbi juga menghasilkan produk turunan yang dikelola oleh UMKM setempat dengan memproduksi keripik, sirup, teh daun yakon, dan juga tepung yakon. Tepung yakon bisa dijadikan pengganti terigu dan sangat baik bagi penderita diabetes karena rendah kalori dan konon nilai ekonomi dari tepung yakon ini sangat tinggi untuk ekspor.
Umbi ini walaupun belum banyak orang mengenalnya, namun sudah mulai diviralkan oleh influencer maupun YouTuber seperti Farida Nurhan, Nana Koot, Sibungbung, dan lainnya. Harapannya, Dinas Pertanian Wonosobo, UMKM, Universitas dan lembaga riset saling berkolaborasi dan mengembangkan budidaya yakon menjadi solusi pangan sehat dan pertumbuhan ekonomi bagi petani yakon.